Monday 28 March 2011 11:57
Share/Save/Bookmark
Makalah
Mendialogkan Perbedaan
Islam Times- Puritanisme yang “sedarah” dengan Wahabisme ini--menurut Ahmed Cevdet Pasa (2009)--telah dipandang sebagai gerakan yang “menyempal” dari paham Ahlussunnah wal Jamaah. Model gerakan puritan paling lawas dalam sejarah Islam adalah Khawarij. Gerakan pemurni yang radikal di Indonesia juga sering terjadi, setidaknya sejak gerakan Padri
Mendialogkan Perbedaan

Oleh; DR. KH Said Aqiel Siradj
Ketua Umum PBNU

ADA seorang “kiai kampung” di sebuah daerah pernah bertutur pada saya tentang makin tergusurnya tradisi-tradisi keagamaan seperti beduk di masjid, mimbar dengan tongkat yang biasa bertengger di masjid-masjid, gaya sarungan dan peci serta banyak tradisi lainnya. Ini kata sang kiai, karena kian maraknya kelompok-kelompok Islam yang mengklaim pembawa “Islam murni” mulai merasuk ke pelosok-pelosok desa sembari mengobarkan pembasmian terhadap amalan-amalan keislaman yang akrab dengan tradisi.

Dengan penampilan “gaya Timur Tengahnya”, mereka mengusung doktrin perlawanan terhadap bid‘ah, khurafat dan takhayul, bahkan berani memvonis syirik terhadap umat Islam yang mempraktikkan “amalan-amalan tradisi” tersebut. Gerakan puritan ini tampak berpunggungan dengan realitas amalan muslim Indonesia selama ini yang sangat akomodatif dan toleran dengan tradisi lokal. Contoh, tidak membolehkan menghancurkan punden-punden atau arca peninggalan leluhur, membolehkan berziarah ke makam orang tua dan leluhur, menerima selamatan orang mati, masjidnya sering masih ada yang berciri gaya joglo atau masjidnya ada beduk serta kentungan dan lainnya.

Suasana negeri kita rupanya kian ingar-bingar saja. Ada arus deras “paham impor” yang dicemaskan bisa menggasak identitas Islam Indonesia. Puritanisme bergerak makin gahar saja. Mereka mengorganisasi secara massal berikut dukungan infrastruktur seperti pemancar radio, tv komunitas, pelembagaan ekonomi dan lainnya. Mereka tergedor berjihad mengampanyekan Islam yang “murni” dari segala bentuk pengaruh lokalitas budaya.

Gerakan puritan umumnya menganggap dirinya lebih benar dari pada lawannya. Menyitir Khaled Abou El-Fadl (2005), puritanisme selalu berwatak intoleran, merasa superior, pengungkungan terhadap perempuan, antirasionalisme, membenci bentuk-bentuk kreatif ekspresi artistik dan sangat literalis.

Puritanisme yang “sedarah” dengan Wahabisme ini--menurut Ahmed Cevdet Pasa (2009)--telah dipandang sebagai gerakan yang “menyempal” dari paham Ahlussunnah wal Jamaah. Model gerakan puritan paling lawas dalam sejarah Islam adalah Khawarij. Gerakan pemurni yang radikal di Indonesia juga sering terjadi, setidaknya sejak gerakan Padri.

Teks dan Tradisi
Setiap agama tidak akan luput dari respons sosial. Semua bertolak dan bergumul dari, untuk dan dengannya. Ketika agama yang merupakan titah suci Tuhan berdialektika dengan realitas sosial, berarti ia masuk pada kubangan sejarah, ia menyejarah.

Dalam sejarahnya, agama tidak luput dari unsur-unsur budaya lokal di mana ia turun. Agama Islam hadir saat tradisi paganisme merajalela. Nabi Muhammad SAW hanya membenahi ajaran pendahulunya dan membubuhinya dengan syariat yang klop dengan umat yang dihadapi di masa-masa datang. Purifikasi agama yang dilakoni beliau tidak lain hanya menegaskan kembali esensi ajaran Ibrahim.

Islam tidaklah antipati terhadap seluruh tradisi Arab ketika itu. Sebagian tradisi (turats) ditanggalkan, sebagian lagi dibenahi lantas dilestarikan. Dalam ungkapan al-Asymawi (2004), mantan hakim agung Mesir, Islam tidak luput dari jeratan tradisi Arab. Islam dinilainya mengadopsi beberapa unsur kebudayaan tersebut.

Tradisi Islam-Arab bermula sejak dimulainya masa perwahyuan Al Quran dan hadis. Dari masa itu, umat Islam mulai meracik dan menumbuhkembangkan peradaban Islam yang kelak menjadi peradaban raksasa dunia. Peradaban Islam banyak dipengaruhi tradisi itu sendiri.

Keintiman agama dan tradisi adalah niscaya. Sangat naif jika ada pernyataan bahwa agama menafikan eksistensi tradisi sebagai khazanah hasil pencapaian manusia. Agama memadukan dengan seimbang (well balanced) antara teks dan konteks guna melahirkan suatu aturan atau hukum demi kemaslahatan.

Dalam beberapa karya ulama fikih klasik, terdapat kaidah fikih yang menyebutkan al‘ adah muhakkamah (suatu adat yang menjadi hukum). Ini menunjukkan, masalah budaya lokal tidak luput dari jangkauan pembahasan mereka. Kaidah familier ini merupakan buah dari jerih payah para ulama klasik dalam memahami relasi antara karakter tipikal Islam dan tradisi.

Islam terus-menerus dihadapkan pada realitas sosial yang kian pelik, yang nantinya akan menentukan corak tradisi. Sejak lama, problem tradisi menjadi afinitas dan pergulatan umat Islam. Hal tersebut bertolak dari problem yang dihadapi umat Islam dalam mewarisi tradisi para pendahulu dan menghadapi fenomena baru.

Penguatan Dialog
Tingkat pemahaman umat Islam memang berbeda-beda dalam menangkap pesan keilahian. Tak sedikit yang memahami agama secara legal-formal dan tekstual. Sumber-sumber pokok Islam, yakni Al Quran dan hadis bersifat umum dan global, kadang normatif. Sehingga, untuk memahami sebuah ayat, tidak jarang dibutuhkan penjelasan ayat lain, hingga interpretasi dan ijtihad para ulama. Kalau kerja-kerja penafsiran ini didekati secara legal-formal, maka yang muncul adalah model pemahaman ajaran Islam yang sempit, kaku, kadang ekstrem dan menakutkan.

Kita sangat terkejut, Selasa, 15 Maret terjadi ledakan bom dari sebuah paket buku di Komunitas Utan Kayu yang diarahkan untuk Ulil Absar Abdalla yang menjadi “ikon” Jaringan Islam Liberal (JIL). Kita belum berani memastikan siapa pengirimnya: kelompok keagamaan yang membenci kelompok JIL atau lainnya. Tetapi, kejadian tersebut menunjukkan bagaimana perbedaan pandangan termasuk soal keagamaan telah memicu aksi anarkistis yang sadistis. Kita tidak ingin sejarah berulang: hanya karena perbedaan mazhab terjadi saling bunuh. Solusinya adalah dialog. Selama dialog bisa berlangsung, perbedaan pandangan akan mempunyai fungsi positif. Terputusnya komunikasi dan makin terasingnya masing-masing kelompok akan mengandung bahaya. Perlu sikap responsif dan komunikatif sehingga tidak akan menimbulkan skisma, perpecahan umat yang akan berimbas pada stabilitas NKRI.

Aliran-aliran agama memang mempunyai fungsi sosial yang cukup penting bagi para penganutnya, yaitu sebagai pengganti ikatan keluarga, pemberi perlindungan dan keamanan psikologis-spiritual. Peran ini kerap tidak dapat dimainkan oleh organisasi agama besar, justru karena yang diperlukan adalah hubungan intim dalam sebuah komunitas yang terpisah dari umat yang luas.

Nah, para ulama perlu bangkit kembali memberikan perhatian lebih terhadap umat. Mereka jangan kalap dengan hipnosis selebriti dan politik, sehingga melupakan eksistensinya. Kita punya modal keagamaan dan kultur yang moderat. Ditambah lagi, hadirnya para “kiai kampung” yang merupakan “local genius” yang pengabdiannya lebih steril, telaten dalam berkomunikasi dengan umat.

Peran kiai kampung inilah yang saat ini perlu diperkuat. Model kiai inilah--pinjam istilah Eric Wolf--sebagai “makelar budaya” (cultural broker) yang mampu memainkan peran transmisi secara berimbang antara ajaran keagamaan (diny) dan kebudayaan (tsaqafi). Mereka akan mampu memberikan pemahaman keagamaan yang lebih santun, toleran, dan beradab dengan tetap berpijak pada budaya keindonesiaan. [Islam Times]

Sumber : Harian Jurnal Indonesia, Jum’at 18 Maret 2011 halaman 6
kode topik : 61878
kirimkan topik ini kepada kawan
kirimkan topik ini kepada kawan
terima file dimaksud
terima file dimaksud
ruang terkait
ruang terkait
adres email :
pandangan anda :
tunjuk alamat email

2011-05-22 02:01:53
_Setuju