Iran
Saudi Arabia
Bahrain
Suriah
Irak
Palestina
Kuwait
Qatar
Yaman
Libanon
Zionis
Yordania
Indonesia
Cina
Jepang
Malaysia
Thailand
India
Afganistan
Pakistan





ruang terkait

edisi web

dalam » Analisa » Indonesia

Infiltrasi Asing

Iklan Kecap atau Mesin Cetak Dolar, Komandan?

17 May 2011 2:41

Islam Times- Faktanya satu dari tujuh orang Amerika Serikat kini hidup dalam kemiskinan. Faktanya kas pemerintah federal Amerika Serikat kini tekor US$ 1,6 triliun. Faktanya, 40% negara bagian di Amerika Serikat terpaksa mengutang ke bank-bank asing sekadar memastikan pegawai federal bisa terima gaji rutin tiap bulan, lampu jalan tetap menyala dan kamar jenasah di rumah sakit tetap dingin.


Faktanya
satu dari tujuh orang Amerika Serikat kini hidup dalam kemiskinan. Faktanya kas pemerintah federal Amerika Serikat kini tekor US$ 1,6 triliun.Faktanya, 40% negara bagian di Amerika Serikat terpaksa mengutang ke bank-bank asing sekadar memastikan pegawai federal bisa terima gaji rutin tiap bulan, lampu jalan tetap menyala dan kamar jenasah di rumah sakit tetap dingin.

 

Faktanya Presiden Barack Obama pekan lalu bilang kalau hantu resesi bakal kembali muncul dan mengambil yang terbaik dari perekonomian Amerika. Faktanya Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta – yang semestinya ikut lesu karena Washington berdarah-darah – justru royal keluar uang untuk aneka program yang mereka sebut sebagai hibah untuk Indonesia, seolah mereka punya mesin cetak dolar portable yang tinggal diengkol setiap kali perlu.

 

Tapi persoalannya sebenarnya ada di bagian ini: tak seorang pun jenderal ekonomi dan militer di Jakarta yang merasa aneh dengan fakta-fakta yang saling menikam itu.

 

Tentu saja pejabat bisa bilang Indonesia bukan kasus istimewa.  Sebab faktanya Amerika, di saat jutaan penduduknya jatuh melarat, memang keluar uang triliunan dolar untuk menginvasi Irak dan Afghanistan dan mengirim dua negara itu ke zaman batu dalam 10 tahun terakhir. Faktanya Amerika memang royal keluar uang banyak untuk meringankan ‘beban pembangunan’ negara-negara yang mau jadi ‘mitra’ mereka dalam berbagai urusan, dan ini termasuk Pakistan, Filipina dan Indonesia.

 

Tapi tetap saja semua itu tak menghilangkan kewajiban pemerintah untuk memeriksa lebih jauh. Jakarta setidaknya perlu bertanya: ada apa hingga Washington memilih mendulukan Indonesia ketimbang para pembayar pajak di Amerika yang notabene sedang terlilit kesusahan dan dari uang pajaknya mereka lah diplomat Amerika di Indonesia bisa terbang ke sembarang titik di Indonesia dengan jet pribadi yang mereka kelola sendiri?

 

Pekan lalu, Kantor Berita Antara melaporkan contoh lain dari kemurahan berlebih diplomat-diplomat Amerika di Jakarta. Kata kantor berita negara, salah seorang diplomat senior Amerika di Jakarta terbang sejauh Ambon dan, di sana, dia menawarkan ke pemerintah daerah bantuan peningkatan kualitas pendidikan untuk sebuah universitas negeri.

 

Konsul Jenderal Kristen Bauer menjanjikan hibah US$ 165 juta, sekitar Rp 1,6 triliun, untuk apa yang dia sebut sebagai “perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia”, lapor Antara.

 

Uang itu, katanya, sebagiannya bakal digunakan untuk membiayai pengiriman pelajar Indonesia ke Amerika, untuk kerjasama antar universitas, dan pembiayaan pertukaran guru dan pelajar di semua tingkatan pendidikan, dari SD hingga SMA.

 

Jenderal Kristen, dengan semua janji dolar dan ‘kepeduliannya’ pada dunia pendidikan Indonesia, nampaknya sedang ingin bermain malaikat Tuhan atau minimalnya sinterklas. Tapi sebenarnya jauh dari itu, sebab andai tulus dengan niat dan dolarnya, dia cukup mentransfer Rp 1,6 triliun ke rekening Kementrian Pendidikan di Jakarta yang kemudian bisa menggunakannya untuk menggratiskan kuliah beribu-ribu mahasiswa di seluruh negeri.

 

Tapi Kristen lebih memilih jalan ‘memutar’, yang memastikan pelajar, guru dan dosen Indonesia terbang ke Amerika demi memperdalam ilmu ketimbang belajar di universitas di dalam negeri. Tanya kenapa? [Islam Times/Antara/K-014/ON]

 

Rujukan;

Thetruthwins

Americanandproud

Finance.yahoo

WND