Bicarakan Konflik Suriah, Netanyahu akan Bertemu Vladimir PutinKomando Operasi Irak: Sekitar 1.400 Elemen ISIS Bersenjata Berada di Tal AfarBashar Assad: "Recep Erdogan sebagai Pengemis Politik"Jenderal Qassem Soleimani: Iran Sentral Stabilitas Timur TengahPejabat Pro-Hadi: Saudi Kerahkan Pasukan untuk Duduki AdenKomandan ISIS Serahkan Diri ke Hizbullah23 Orang Tewas Akibat Kecelakaan Kereta di IndiaTentara Suriah Bebaskan Wilayah Luas di Suriah Tengah dari ISISTentara Irak dan Hashed al-Shaabi Mulai Bebaskan Tal Afar dari ISISBendera Indonesia Dicetak Terbalik, Menlu Kirim Nota Diplomatik ke Malaysia
 
 
 
 
 
 
 
Silahkan register.
 
 
Tanggal Berita : Thursday 10 August 2017 - 12:49
Share/Save/Bookmark
Integritas Indonesia:
Wiranto: Rasa Memiliki Negara Perlu Ditumbuhkan
 
Wiranto, Menteri koordinator bidang politik hukum dan keamanan
 
Islam Times - "Yang penting seluruh masyarakat perlu kita ajak memiliki rasa handarbeni (memiliki) negaranya ini dulu," kata Wiranto
 
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan rasa memiliki negara perlu terus menerus ditumbuhkan sebelum mengajak masyarakat Indonesia ikut membela negara dari berbagai ancaman global.

"Yang penting seluruh masyarakat perlu kita ajak memiliki rasa handarbeni (memiliki) negaranya ini dulu," kata Wiranto seusai melantik pengurus Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta di Convention Hall kampus itu, Rabu.

Menurut Wiranto, dengan memiliki rasa memiliki negaranya maka sudah semestinya mereka membela negaranya dari berbagai ancaman yang datang dari luar baik dalam bentuk penjajahan ideologi, ekonomi, politik, keamanan dan lainnya.

"Kita lahir, besar, makan nasi, bahkan hingga mungkin mati juga di Indonesia, kok kemudian tidak merasa memiliki negeri, ini kan salah besar," kata Wiranto.

Saat ini, kata dia, ancaman dari luar negeri bukan lagi berupa invasi militer. Cara-cara itu sudah ditinggalkan negara penjajah karena untuk konteks saat ini dinilai tidak lagi menguntungkan baik dari sisi ekonomi maupun posisi mereka di ranah geopilitik internasional.

"Invasi dengan pendudukan pasukan di negara lain kan biayanya mahal sekali. Belum lagi akan menghadapi hujatan dari berbagai negara, tentu itu tidak menguntungkan mereka," kata dia.

Sehingga kini bentuk penjajahan itu bertransformasi melalui penyerangan ideologi berupa penyusupan paham radikal dan terorisme, perusakan lingkungan seperti illegal logging, perusakan alam pikir masyarakat melalui media sosial, serta pemasokan narkoba untuk memutus perkembangan generasi muda Indonesia.

Ancaman itu, menurut dia, justru lebih efektif dan membahayakan dibandingkan ancaman militer karena lebih banyak memanfaatkan "tangan" masyarakat Indonesia sendiri.

"Masalahnya rakyat kita rata-rata belum paham bahwa itu ancaman. Mereka merasa itu semua adalah bagian dari kehidupan kita yang dinamis," kata dia.

Oleh karena itu, menurut Wiranto, semangat bela negara perlu dimunculkan dengan didahului rasa memiliki negaranya sendiri disertai penguatan nilai Pancasila sebagai ideologi negara. "Karena untuk menghalau ancaman itu tidak mungkin hanya diserahkan pada tentara dan polisi," kata dia.

Untuk menanamkan rasa memiliki negara atau nasionalisme, Wiranto ingin mencontoh strategi yang dilalukan Pemerintah Turki. Pasalnya, meski wilayah Turki berbatasan langsung dengan Suriah yang notabene menjadi basis ISIS, namun kenyataanya rasio masyarakat yang menjadi teroris sangat kecil.

"Turki tidak membangun tembok penghadang di perbatasan, tetapi yang ditembok adalah hati masyarakatnya," kata dia.[IT/r/Antara]
 
Kode: 660004