Pilpres Mesir, Sisi Menang dengan Meraup 92 Persen SuaraKemitraan Trans-Pasifik (TPP) Versus Islam adalah SolusiKonvoi Tentara Turki Dikerahkan ke Jisr al-ShughourHakim AS: Arab Saudi Bisa Diadili Atas Serangan 11 SeptemberRusia Gagalkan Puluhan Pelaku Pembom Bunuh Diri TakfiriMega Skandal Menjerat Benjamin NetanyahuMalaysia Tangkap 11 Orang Diduga Terkait ISISKrisis Maladewa, 11 Kapal Perang China Masuki Samudera HindiaGawat, Indonesia Diserbu Berton-ton NarkobaOperasi Pemindahan Jenazah Korban Pesawat Jatuh Masih Berlanjut
 
 
 
 
 
Silahkan register.
 
 
Tanggal Berita : Sunday 18 March 2018 - 05:50
Share/Save/Bookmark
SEAN-Australia Special Summit 2018:
Indonesia-Australia Dorong Stabilitas Indo-Pasifik
ASEAN-Australia Special Summit 2018 di Sydney.jpg
 
ASEAN-Australia Special Summit 2018 di Sydney.jpg
 
IslamTimes - Indonesia dan Australia sama-sama mendorong stabilitas kawasan Indo-Pasifik dalam pertemuan kedua negara pada sela-sela ASEAN-Australia Special Summit 2018 di Sydney.
 
"Pada pertemuan bilateral tadi, kedua pemimpin menyambut baik dan berharap `plan of action` kerja sama maritim segera diimpelemtasikan dan berharap agar pembahasan komunikasi dan konsultasi dalam konsep Indo-pasifik tercapai demi stabilitas di Indo-pasifik," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat memberikan keterangan resmi di Sydney, Sabtu (17/3).

Pertemuan bilateral itu sekaligus menjadi kesimpulan dari pertemuan 2+2 antara menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara yang sudah dilangsungkan pada Jumat (16/3).

"Selain itu ada pembicaraan mengenai Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang walau hampir semua selesai, pembicaraan sudah lebih dari 90 persen tapi masih ada bebarapa hal yang harus dibahas kembali dengan Australia," tambah Retno.

Perundingan antara menteri perdagangan selanjutnya akan dilakukan pada bulan depan.

"Dari laporan Pak menteri perdagangan, pada April akan bertemu kembali untuk menyelesaikan sisa yang ada dari pembicaraan tadi, mudah-mudahan pada akhir tahun ini sudah dapat dicapai kesepakatan," tambah Retno.

Dalam pembicaraan tersebut, menurut Retno prinsip yang disepakati adalah harus menguntungkan kedua belah pihak.

"Prinsip yang harus disetujui pertama adalah kerja sama CEPA harus menguntungkan kedua belah pihak. Prinsip kedua, dalam CEPA bukan saja `comercial project` tapi yang ditekankan `partnership` dan `cooperation`, jadi kalau ada suatu titik negara kurang mendapat keuntungan tapi di titik lain akan mendapat keuntungan sehingga kalau ditotal menguntungkan kedua belah pihak," jelas Retno.

Pembahasan ketiga dalam pertemuan bilateral adalah mengenai kerja sama digital Indonesia-Australia.

"Yang ditindaklanjuti untuk peningkatan kerja sama UKM start-up (usaha rintisan) dalam mengembangkan inovasi digital, peningkatan `digital litercy`, dan `smart government` untuk meningkatkan pelayanan publik dan ekonomi kreatif," ungkap Retno.

Ekonomi digital itu juga menjadi topik yang dibawa Indonesia ketika mendapat jatah memimpin forum MIKTA yang terdiri atas lima negara.

"Ekonomi digital kita jadikan salah satu topik keketuaan Indonesia di Mikta yang terdiri dari Meksiko, Korea, Turki, Indonesia dan Australia dan saat ini Indoensia menjadi ketuanya," ungkap Retno.

Pada Minggu (18/3) Presiden dijadwalkan menghadiri pertemuan pleno yang membicarakan tiga topik yaitu keterlibatan Australia di ASEAN, kerja sama ekonomi dan penanggulangan terorisme.

Selanjutnya ada juga sesi "ret-reat" yang membahas mengenai kawasan dan isu dunia. Presiden pada sore harinya langsung terbang ke Wellington, Selandia Baru untuk melakukan kunjungan kenegaraan.[IT/r/Antara]
 
Kode: 712285