Jet Rusia Bombardir Bandara Idlib yang Dikunjungi Tentara TurkiFSA Dukungan Turki Kuasai Wilayah dari YPGKomandan Tinggi Hay'at Tahrir al-Sham TewasDiduga Salinan Drone RQ-170 Milik Iran Ditangkap oleh IsraelIntelijen Irak: al-Baghdadi Terluka parah dan LumpuhImam Ali Khamenei: Muslim Sunni dan Syiah Bersatu Melawan MusuhAyatullah Hashemi Shahroudi: Kecintaan pada Ahli Bait Milik Semua MusliminAli Akbar Velayati Membuka KTT Pecinta Ahli Bait dan TakfiriTentara Suriah Terus Raih Kemenangan di Deir EzzorTentara Irak Ambil Alih Pos Perbatasan Suriah dari Peshmerga
 
 
 
 
 
Silahkan register.
 
 
Tanggal Berita : Saturday 20 January 2018 - 22:14
Share/Save/Bookmark
Jerman dan Invasi Saudi di Yaman:
Jerman Menghentikan Penjualan Senjata ke Arab Saudi
Saudi-led forces on the outskirts of the southern Yemen port city of Aden.jpg
 
Saudi-led forces on the outskirts of the southern Yemen port city of Aden.jpg
 
IslamTimes - Jerman telah berhenti menjual senjata ke Arab Saudi dan hampir semua sekutunya melancarkan perang ke Yaman, dalam sebuah keputusan yang kemungkinan akan berdampak pada rezim Riyadh dan juga efek domino terhadap negara-negara Barat dan non-Barat lainnya yang mengekspor senjata ke Arab Saudi.
 
Juru bicara pemerintah Jerman Steffen Seibert mengatakan pada hari Jumat (19/1) bahwa Dewan Keamanan Federal tidak lagi menerbitkan lisensi ekspor yang "tidak sesuai dengan kesimpulan dari perundingan eksplorasi," kantor berita resmi DPA Jerman melaporkan.

Pejabat tersebut mengacu pada perundingan yang sedang berlangsung di antara faksi politik Jerman dari Uni Demokratik Kristen, Serikat Sosial Kristen, dan Demokrat Sosial mengenai pembentukan pemerintah koalisi baru.

Sebuah draf UU tentang ekspor senjata yang keluar dari pembicaraan tersebut mengatakan bahwa "pemerintah federal, dengan segera, tidak akan lagi mengekspor senjata ke negara-negara selama mereka terlibat dalam perang Yaman."

Sekitar 13.600 orang telah meninggal sejak Arab Saudi mulai memimpin sejumlah negara sekutunya melakukan invasi ke Yaman pada bulan Maret 2015.

Perang yang membawa partisipasi antara Uni Emirat Arab, Yordania, Mesir, Bahrain, Kuwait, Maroko, Sudan, dan Senegal, diperkuat oleh pasokan senjata dan dukungan logistik dari Amerika Serikat dan Inggris.

Washington menandatangani kesepakatan senjata senilai $ 110 miliar dengan Riyadh tahun lalu.

Dengan menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi, sekutu kelas berat Eropa Jerman dapat menjadi model bagi kekuatan Barat dan non-Barat lainnya yang sudah mendapat tekanan untuk mengakhiri penjualan senjata mereka ke rezim Riyadh. Kelompok hak asasi manusia telah lama menyerukan embargo senjata ke Arab Saudi yang terlibat kejahatan perang di Yaman.

Sebuah panel PBB baru-baru ini menyusun sebuah laporan terperinci tentang korban sipil yang disebabkan oleh militer Saudi dan sekutu-sekutunya selama perang, mengatakan bahwa koalisi yang dipimpin Riyadh telah menggunakan amunisi dengan panduan presisi dalam serangannya terhadap sasaran sipil.

"Serangan tersebut dilakukan oleh senjata dengan panduan presisi, jadi merupakan target yang diinginkan," kata laporan panel tersebut, menurut Al Jazeera.[IT/r]
 
Kode: 698495