Undangan Menulis Makalah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pecinta Ahli Bait (as) dan Masalah TakfiriPrabowo Subianto Blunder, Sebut Pengiriman Bantuan ke Rohingya adalah PencitraanZarif: Tehran Siap Bekerjasama dengan Riyadh untuk Atasi Masalah MusliminMantan Pejabat Keamanan Israel: Assad Sebagai Pemenang di SuriahDari Pencaplokan Sampai Kekalahan Demi Kekalahan ISIS di Suriah dan IrakFilipina Gandeng Kelompok Moro Islamic Liberation Front (MILF) Perangi ISIS di MarawiUpdate: Tentara Suriah Lancarkan Operasi Besar di Barat Laut Deir EzzorPutin: Situasi di Suriah Berubah, Tapi Teroris Masih EksisPBB: Konsekuensi Tindakan Militer Atas Korut Terlalu MengerikanIran Ucapkan Selamat atas Kemenangan Tentara Suriah di Deir Ez-Zoor
 
 
 
 
 
 
 
Silahkan register.
 
 
Tanggal Berita : Wednesday 6 September 2017 - 16:47
Share/Save/Bookmark
Filipina Gandeng Kelompok Moro Islamic Liberation Front (MILF) Perangi ISIS di Marawi
Militer Filipina di Marawi (NBC)
 
Militer Filipina di Marawi (NBC)
 
Islam Times - Kini, kata Vega, militer menyupai data intelijen kepada MILF dalam perang melawan sekitar 60 militan yang dipimpin oleh Esmael Abdulmalik alias Abu Turaifi, mantan pemimpin gerilyawan MILF.
 
Militer Filipina bekerja sama dengan kelompok Moro Islamic Liberation Front (MILF), untuk menumpas kelompok Takfiri ISIS di Marawi. Di tengah desingan peluru artileri, terlihat militer Filipina berbaur dengan ratusan pejuang MILF, menggempur kelompok teroris ISIS yang menduduki wilayah Mindanao, di selatan Filipina.

Kerja sama tersebut merupakan taktik terbaru Pemerintah Filipina untuk mencoba memberantas teroris Takfiri ISIS di Marawi dan sekitarnya.

Hal itu dilakukan, setelah berbulan-bulan terjadi pertempuran yang memakan hampir seribu korban jiwa.

Seperti dikutip AFP, Rabu (6/9/2017), Mayor Jenderal Arnel dela Vega dari Gugus Tugas Bersama Militer Filipina mengatakan, kelompok militan mengambil kesempatan membangun kekuatan, di saat tentara pemerintah terlibat konflik Marawi.

Aliansi dengan MILF ini termasuk memberikan kesempatan para militan melakukan penembakan langsung, dan bahkan dukungan udara, serta keahlian lainnya.

Kendati demikian, menurut Vega, rasa canggung bertempur berdampingan dengan mantan musuh memang terus terjadi.

Pemerintan Filipina mencatat, pemberontakan MILF telah menewaskan lebih dari 100.000 orang.

Kelompok tersebut menandatangani sebuah perjanjian damai pada tahun 2014, namun tidak akan melucuti senjata sebelum pemerintah mengeluarkan sebuah undang-undang.

Undang-undang itu menyangkut pengaturan tentang pemberian otonomi untuk wilayah-wilayah Muslim di negara yang mayoritas berpenduduk Katolik.

Namun, faksi-faksi kecil terus berjuang. Mereka frustrasi dengan masa depan UU yang terus terhambat di Kongres.

Kini, kata Vega, militer menyupai data intelijen kepada MILF dalam perang melawan sekitar 60 militan yang dipimpin oleh Esmael Abdulmalik alias Abu Turaifi, mantan pemimpin gerilyawan MILF.

Dia mengatakan, unit pasukan tidak akan bergabung dengan militan MILF karena mereka memiliki taktik operasional dan prosedur yang berbeda dalam konflik tersebut.

Kerjasama ini dimulai pada awal Agustus lalu, di atas lahan rawa liar sekitar 800 kilometer di selatan Manila.

"Pada umumnya hasilnya sangat menguntungkan kita," kata Vega.

Seorang wartawan televisi yang bekerja untuk AFP melihat dua helikopter militer menembaki posisi faksi militan tersebut.

Sementara sebuah van polisi mengumpulkan militan MILF tewas dan terluka di dekat kota pertanian Datu Salibo, Selasa kemarin.

Vega mengatakan, kesepakatan kerjasama ini adalah situasi "win-win" baik untuk pemerintah maupun MILF.

Konflik di Marawi telah menyebabkan hampir seribu orang tewas, namun beberapa belasan orang bersenjata terus melawan dan masih menahan sandera. [IT/kompas]

 
Kode: 666908