Ayatullah Hashemi Shahroudi: Kecintaan pada Ahli Bait Milik Semua MusliminAli Akbar Velayati Membuka KTT Pecinta Ahli Bait dan TakfiriTentara Suriah Terus Raih Kemenangan di Deir EzzorTentara Irak Ambil Alih Pos Perbatasan Suriah dari PeshmergaTentara Irak Temukan Kuburan Massal di HawijaPasukan Irak dan Peshmerga Kurdi Sepakati Gencatan SenjataAl-Houthi Tembak Jatuh Jet Tempur Typhoon Milik Saudi ArabiaIni Dokumen CIA Terkait John F Kennedy yang Sebut Plot Pembunuhan SukarnoDokumen CIA Terkait Pembunuhan John F Kennedy dan Presiden SukarnoParlemen Catalonia Deklarasikan Kemerdekaan dari Spanyol
 
 
 
 
 
 
Silahkan register.
 
 
Tanggal Berita : Wednesday 6 September 2017 - 13:44
Share/Save/Bookmark
PBB: Konsekuensi Tindakan Militer Atas Korut Terlalu Mengerikan
Kim Jong-Un periksa bom hidrogen ( KCNA via REUTERS/Detik)
 
Kim Jong-Un periksa bom hidrogen ( KCNA via REUTERS/Detik)
 
Ilam Times - Pemerintah Rusia bersikeras bahwa sanksi-sanksi baru tak akan menyelesaikan krisis Korut. Menurut Presiden Rusia Vladimir Putin, sanksi-sanksi baru tak ada gunanya. "Sanksi dalam bentuk apapun sekarang tidak akan berguna dan tidak efektif," tutur Putin.
 
Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengingatkan untuk tidak menggunakan retorika konfrontasi terhadap Korea Utara (Korut). Menurutnya, negara-negara besar harus memiliki strategi tunggal untuk menangani masalah Korut.

"Retorika konfrontasi bisa menyebabkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan. Solusinya harus bersifat politik," kata Guterres kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (6/9/2017).

"Konsekuensi potensial dari tindakan militer terlalu mengerikan," imbuhnya.

Komentar tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea usai uji coba nuklir yang dilakukan Korut beberapa hari lalu. Pemimpin Korut Kim Jong-Un dan Presiden AS Donald Trump telah beberapa kali melontarkan retorika konfrontasi satu sama lain. Trump bahkan pernah mengancam Korut akan menghadapi "api dan kemarahan" jika terus mengancam AS.

Guterres menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk menunjukkan persatuan dan menyepakati langkah-langkah yang akan diambil terkait krisis nuklir Korut. Pemerintah AS telah mendesak adanya sanksi-sanksi PBB yang lebih berat terhadap Korut. Namun Rusia dan China menyerukan untuk melakukan dialog dengan Pyongyang mengenai denuklirisasi Semenanjung Korea.

Pemerintah Rusia bersikeras bahwa sanksi-sanksi baru tak akan menyelesaikan krisis Korut. Menurut Presiden Rusia Vladimir Putin, sanksi-sanksi baru tak ada gunanya. "Sanksi dalam bentuk apapun sekarang tidak akan berguna dan tidak efektif," tutur Putin.

"Mereka (Korut) akan lebih suka makan rumput daripada menghentikan program (senjata nuklir) mereka kecuali mereka merasa aman. Dan apa yang bisa memapankan keamanan? Pemulihan hukum internasional. Kita harus mendukung dialog di antara pihak-pihak yang berkepentingan," imbuhnya.

Putin pun menegaskan, solusi militer tak akan mengarah ke hal yang baik dan malah akan bisa memicu bencana global. [IT/Detik]
 
Kode: 666843