Undangan Menulis Makalah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pecinta Ahli Bait (as) dan Masalah TakfiriPrabowo Subianto Blunder, Sebut Pengiriman Bantuan ke Rohingya adalah PencitraanZarif: Tehran Siap Bekerjasama dengan Riyadh untuk Atasi Masalah MusliminMantan Pejabat Keamanan Israel: Assad Sebagai Pemenang di SuriahDari Pencaplokan Sampai Kekalahan Demi Kekalahan ISIS di Suriah dan IrakFilipina Gandeng Kelompok Moro Islamic Liberation Front (MILF) Perangi ISIS di MarawiUpdate: Tentara Suriah Lancarkan Operasi Besar di Barat Laut Deir EzzorPutin: Situasi di Suriah Berubah, Tapi Teroris Masih EksisPBB: Konsekuensi Tindakan Militer Atas Korut Terlalu MengerikanIran Ucapkan Selamat atas Kemenangan Tentara Suriah di Deir Ez-Zoor
 
 
 
 
 
Silahkan register.
 
 
Tanggal Berita : Sunday 13 August 2017 - 20:05
Share/Save/Bookmark
Iran vs Hegemoni Global:
Gema 'Mampus Amerika' Terdengar dari Parlemen Iran
Parlemen Republik Islam Iran.jpg
 
Parlemen Republik Islam Iran.jpg
 
IslamTimes - Parlemen Iran pada hari Minggu (13/8) telah memutuskan untuk menambah anggaran program nuklir hingga US$520 juta atau sekitar Rp 7 triliun. Langkah itu diambil setelah Amerika Serikat memberi sanksi kepada negara itu selang beberapa pekan lalu.
 
"Orang Amerika itu harus tahu bahwa ini adalah aksi pertama kami," kata juru bicara parlemen Iran Ali Larijani setelah mengumumkan dukungan paket program nuklir bagi Garda Revolusi Iran.

"Program ini adalah untuk melawan teroris dan aksi petualangan koboi Amerika Serikat di kawasan," lanjutnya.

Setelah pengumuman itu selesai diumumkan, para politisi Iran meneriakkan ‘Mampus Amerika' berulang kali.

Dari 244 suara, ada 240 anggota parlemen setuju untuk meloloskan rencana undang-undang penambahan dana program nuklir itu.

RUU tersebut memandatkan alokasi tambahan sebesar US$ 260 juta untuk 'pembangunan program misil' dan menambahkan jumlah yang sama bagi sayap operasi asing Garda Revolusi, Quds Force. Demikian, pernyataan kantor berita pemerintah, IRNA.

Quds Force memimpin peran militer Iran di Suriah dan Irak. Pemungutan suara tersebut dilakukan setelah Amerika Serikat memberlakukan sanksi baru terhadap Iran pada bulan Juli demi membatasi program rudal negara itu.

Tehran mengatakan bahwa tindakan tersebut melanggar kesepakatan tahun 2015 yang kala itu mengurangi sanksi dengan imbalan pembatasan program nuklir Iran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa undang-undang yang disahkan pada hari Minggu (13/8) mendapat dukungan dari pemerintah.

RUU itu "sangat cerdas terutama karena tidak melanggar kesepakatan nuklir dan tidak membiarkan pihak lain membuat alasan," tambahnya.

"Iran menawarkan opsi potensial dan aktual untuk menghadapi tindakan AS yang bermusuhan".

Amerika Serikat tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Iran sejak tahun 1980, dan Trump telah menghentikan kontak langsung yang diprakarsai oleh pendahulunya Barack Obama.[IT/r]
 
Kode: 660902