Jet Rusia Bombardir Bandara Idlib yang Dikunjungi Tentara TurkiFSA Dukungan Turki Kuasai Wilayah dari YPGKomandan Tinggi Hay'at Tahrir al-Sham TewasDiduga Salinan Drone RQ-170 Milik Iran Ditangkap oleh IsraelIntelijen Irak: al-Baghdadi Terluka parah dan LumpuhImam Ali Khamenei: Muslim Sunni dan Syiah Bersatu Melawan MusuhAyatullah Hashemi Shahroudi: Kecintaan pada Ahli Bait Milik Semua MusliminAli Akbar Velayati Membuka KTT Pecinta Ahli Bait dan TakfiriTentara Suriah Terus Raih Kemenangan di Deir EzzorTentara Irak Ambil Alih Pos Perbatasan Suriah dari Peshmerga
 
 
 
 
 
 
 
Silahkan register.
 
 
Tanggal Berita : Tuesday 9 May 2017 - 07:21
Share/Save/Bookmark
Sekitar 5.000 Warga China Gabung Kelompok Takfiri di Suriah
Petempur ISIS asal China di Suriah (the-levant)
 
Petempur ISIS asal China di Suriah (the-levant)
 
Islam Times - Pemerintah China juga mengaku khawatir terhadap sebagian warga Uighur, sebuah kelompok etnis Muslim berbahasa Turki, yang terbang ke Suriah dan Irak secara ilegal melalui Asia Tenggara dan Turki untuk bergabung dengan kelompok ISIS.
 
Sebanyak 5.000-an warga etnis Uighur China, dari Xinjiang bergabung dengan sejumlah kelompok pemberontak bersenjata di Suriah, kata duta besar Suriah untuk China, Imad Moustapha, Senin, 08/05/17.

Pemerintah China juga mengaku khawatir terhadap sebagian warga Uighur, sebuah kelompok etnis Muslim berbahasa Turki, yang terbang ke Suriah dan Irak secara ilegal melalui Asia Tenggara dan Turki untuk bergabung dengan kelompok ISIS.

Duta besar Moustapha mengatakan bahwa sebagian besar warga Uighur di Suriah bertempur membawa nama kelompok sendiri demi memperjuangkan kepentingan mereka.

"Kami memperkirakan ada sekitar 4.000 sampai dengan 5.000 warga Uighur. China dan negara lain seharusnya mulai memberi perhatian serius," katanya.

Pemerintah Beijing sendiri hingga kini belum pernah mengungkapkan berapa banyak etnis Uighur yang bertempur di Timur Tengah.

Sementara itu, penyataan duta besar Moustapha sulit diverifikasi secara independen karena kawasan perang Suriah tertutup untuk media.

Namun, sejumlah kelompok pembela hak asasi manusia (HAM) dan tokoh Uighur di pengasingan mengatakan bahwa mereka terbang ke Turki hanya untuk melarikan diri dari represi Pemerintah China.

Moustapha mengatakan bahwa tidak seperti negara-negara Barat yang mendukung beberapa kelompok yang mereka anggap sebagai oposisi moderat, China tidak pernah membedakan kelompok gerilyawan bersenjata.

"Mereka mengerti tabiat sebenarnya dari doktrin semua kelompok radikal ini. Kami saling bertukar informasi mengenai para teroris ini," katanya.[IT/Ant]

 
Kode: 634888