Serangan Bom Pinggir Jalan al-Houthi Hancurkan Truk Militer Saudi ArabiaTiga Perempuan Pelaku Bom Bunuh Diri Boko Haram Tewaskan 28 Orang di NigeriaPerbatasan Arab Saudi dan Irak akan Dibuka Setelah 27 Tahun DitutupTentara Suriah Gagalkan Serangan Ha'yat Tahrir al-Sham di Tenggara HamaPesawat N219 Buatan Dalam Negeri akan Uji Terbang di BandungBanyak Panglima Organisasi Papua Merdeka (OPM) Gabung ke NKRIBreaking News: Free Syrian Army (FSA) Tangkap Pilot SuriahSatu Warga Irak Selamatkan Ratusan Naskah Manuskrip Kuno dari Penjarahan ISISHPI Iran Peringati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72Akibat Serangan Saudi, 16 Juta Penduduk Yaman Terancam Kelaparan dan Kolera
 
 
 
 
 
 
 
Silahkan register.
 
 
Tanggal Berita : Tuesday 9 May 2017 - 07:21
Share/Save/Bookmark
Sekitar 5.000 Warga China Gabung Kelompok Takfiri di Suriah
Petempur ISIS asal China di Suriah (the-levant)
 
Petempur ISIS asal China di Suriah (the-levant)
 
Islam Times - Pemerintah China juga mengaku khawatir terhadap sebagian warga Uighur, sebuah kelompok etnis Muslim berbahasa Turki, yang terbang ke Suriah dan Irak secara ilegal melalui Asia Tenggara dan Turki untuk bergabung dengan kelompok ISIS.
 
Sebanyak 5.000-an warga etnis Uighur China, dari Xinjiang bergabung dengan sejumlah kelompok pemberontak bersenjata di Suriah, kata duta besar Suriah untuk China, Imad Moustapha, Senin, 08/05/17.

Pemerintah China juga mengaku khawatir terhadap sebagian warga Uighur, sebuah kelompok etnis Muslim berbahasa Turki, yang terbang ke Suriah dan Irak secara ilegal melalui Asia Tenggara dan Turki untuk bergabung dengan kelompok ISIS.

Duta besar Moustapha mengatakan bahwa sebagian besar warga Uighur di Suriah bertempur membawa nama kelompok sendiri demi memperjuangkan kepentingan mereka.

"Kami memperkirakan ada sekitar 4.000 sampai dengan 5.000 warga Uighur. China dan negara lain seharusnya mulai memberi perhatian serius," katanya.

Pemerintah Beijing sendiri hingga kini belum pernah mengungkapkan berapa banyak etnis Uighur yang bertempur di Timur Tengah.

Sementara itu, penyataan duta besar Moustapha sulit diverifikasi secara independen karena kawasan perang Suriah tertutup untuk media.

Namun, sejumlah kelompok pembela hak asasi manusia (HAM) dan tokoh Uighur di pengasingan mengatakan bahwa mereka terbang ke Turki hanya untuk melarikan diri dari represi Pemerintah China.

Moustapha mengatakan bahwa tidak seperti negara-negara Barat yang mendukung beberapa kelompok yang mereka anggap sebagai oposisi moderat, China tidak pernah membedakan kelompok gerilyawan bersenjata.

"Mereka mengerti tabiat sebenarnya dari doktrin semua kelompok radikal ini. Kami saling bertukar informasi mengenai para teroris ini," katanya.[IT/Ant]

 
Kode: 634888